Skip to main content
Advanced Search
Rimbunan: Pangkalan Data Pengajian Melayu
Browse Items
Browse Collections
Browse Exhibits
About
Collection Tree
Open menu
Close
Browse Items (19285 total)
Browse All
Browse by Tag
Search Items
Sort by:
Title
Creator
Date Added
Text
Juri sudah ada mazhab sendiri
kepenyairan di singapura menunjukkan tendensi berkembang
Membincangkan mengenai penyair muda Singapura, Megadona
Kata Tugas Bahasa Mentawai
"Dari kenyataan ini, dapat dilihat bahwa perkembangan kebahasaan itu mencerminkan kemajuan atau perkembangan masyarakat penuturnya."
Text
war
The Three Versions of Nyai Dasima Story and the Perspectives for the Study of Philogy by UMAR Junus
Compares three versions of the Nyai Dasima story and examines their differences through a philological approach. It discusses how variations in the texts reflect changes in society, culture, and storytelling traditions.
Text
war
MSS 1589 and the Development of Advanced Knowledge Theory by Umar Junus
Discusses manuscript MSS 1589 and its role in understanding the development of advanced knowledge theory, focusing on its intellectual and textual significance in Malay manuscript studies.
Text
war
Shifting the focus from the Text and the Authorship of the Text to the Text and the Owner(s) of the Text: Processing the Phenomenon of MSS 1589
This article shifts focus from the author to the owners of the text, examining how MSS 1589 was used, preserved, and passed down. It highlights the role of owners in shaping the manuscript's history and meaning
Text
Bahan Nadir
Hikayat Panji Semirang
Sebuah penulisan analitikal tentang karya sastera klasik Cerita Panji yang berjudul Hikayat Panji Semerang. rangka analisis terbahagi kepada 6 aspek iaitu, Garis besar isi,Tokoh, Kependekan cherita, Poko-pokok cherita, Gaya bahasa dan gaya bercerita dan Analisa.
Text
Akhbar
sastera
Akhbar di Malaysia utamakan sastera?
Akhbar Malaysia, sama halnya dengan masyarakatnya yang jamak, juga punya akhbar yang jamakbahasa.
Text
Sosiologi sastera : persoalan teori dan metode di sekitar sastera Melayu dan Indonesia
Pendahuluan
Pembicaraan ini mengenai dua aspek yang berbeza, aspek teori dan fenomena dalam sastera Melayu dan Indonesia. Yang satu lebih teoretikal, sedangkan yang lain berupa perlaksanaan.
Pembicaraan teori juga menyinggung metoda pelaksanaanya. Keduanya dapat dibezakan, tapi tak mungkin dipisahkan. Suatu teori mengambil bentuk melalui metoda pelaksanaanya. Akibatnya, dalam pembicaraan nanti disebutkan salah satu saja, mana yang lebih dipentingkan. Dengan begitu taklah bearti bahawa unsur lainnya tak penting atau tak ada,
Dalam membicarakan satu teori, disamping memberikan perkenalan, juga diberikan kritik, dari orang lain dan saya sendiri. Juga diberikan perlaksanaanya. Tapi supaya pembicaraan lancar, tak penuh sesak, perlaksanaan diberikan pada lampiran, apalagi contoh perlaksanaan itu cukup panjang. Namun begitu, tak semua teori akan diberikan contoh. Hanya teori yang langsung bekerja dengan teks, ini sesuai dengan penjurusan saya dalam mempelajari sastera. Dan teori ini memang menghendaki contoh perlaksanaan untuk menjelaskannya. Pendekatan kedua dari Swingewood (halaman 7) dan pendekatan Duvignaud tak akan dicontohkan. Keterangan yang diberikan pada bab berikut ini saya rasa sudah cukup menjelaskan.
Sesudah perbicaraan tentang tiap-tiap teori itu, ternyata ada kemungkinan lain, yang tak dapat di cakup oleh teori-teori itu. Kemungkinan lain itu dikemukakan dengan mengemukakan keadaan yang ada dalam sastera Melayu dan Indonesia, bagaimana fenomena perkembangan sastera Melayu dan Indonesia dapat didekati. Ini merupakan pembicaraan tentang aspek kedua yang lebih merupakan suatu perlaksanaan, meskipun pada hakikatnya ia tak mungkin terlepas dari landasan teori.
Data digunakan dalam pembicaraan ini adalah data yang berhubung dengan sastera Melayu dan Indonesia. Dan dengan menyedari sepernuhnya akan kemungkinan beberapa erti yang dipunyainya, saya menggunakan kedua istilah itu, Melayu dan Indonesia, dalam hubungan pengertian berikut :
(a) Penggunaan kedua istilah itu pertama kali dilandasi oleh fikiran yang pernah saya kemukakan dalam tahun 1960, yang kemudian saya ulang lagi dalam tahun 1969, yang melihat aspek politik yang melekat dalam penggunaan ‘bahasa Melayu’ dan ‘bahasa Indonesia’ di Indonesia. Yang kedua, ‘bahasa Indonesia’, sebelum perang dunia kedua, digunakan oleh pejuang kemerdekaan dan diistiharkan kelahirannya pada 28 Oktober 1928. Sebelumnya, ia belum lagi bernama ‘bahasa Indonesia’. Namun begitu, Belanda ketika itu masih tetap menemaninya sebagai ‘bahasa Melayu’ (of. U. Junus, 19601 1969).
(b) Pengertian Melayu tadi memang tak dapat dipisahkan dengan ‘bahasa Melayu’ dalam arti kebahasaan, yang tak membezakan antara ‘bahasa Melayu’ dan ‘bahasa Indonesia’. Pengertian ini juga dapat masuk ke dalam pengertian yang saya gunakan dalam pembicaraan ini.
(c) Meskipun kedua pengertian itu dapat dibezakan tapi ia tak dipisahkan dalam pembicaraan ini. Begitu juga halnya dengan kedua istilah itu. Dengan begitu, tak ada pembicaraan yang khusus dinamai ‘pembicaraan tentang sastera Melayu’ atau ‘ tentang sastera Indonesia’. Penggunaan kedua istilah itu tidak digunakan untuk membatasi pembicaraan, tapi untuk memungkinkan ruang-lingkup pengambilan data yang lebih luas.
penilaian kembali atas dewan sastra
Membincangkan kesan-kesan yang berlaku apabila polisi dasar Dewan Sastra longgar
baha zin dalam perkembangan
Mengisahkan tentang sajak-sajak yang membayangkan tentang kegelisahan melihat keadaan masyarakat
Text
Social problems
Rancangan-rancangan TV: Lebih "berbuaya" atau "berbudaya"?
Memang ada kompetisi antara filem dan siaran TV pada satu pihak dengan kebiasaan membaca pada pihak lain, tapi ia tidak perlu jadi kompetisi tidak sihat.
Text
Tangisan
"Berdasarkan keadaan itu, dapat dikatakan bahawa pembaharuan yang dikerjakan Masuri dalam sajak tadi lebih dapat dirasakan sebagai penggunaan unsur yang sama dengan apa yang dilakukan Amir, tapi dalam hubungan proses pembentukan yang berbeza."
Text
Masih kudengar
"Sifat lukisan menjadi lebih sempurna dengan adanya kecenderungan pada sajak-sajak Latiff untuk mengisikan imej-imej ke dalamnya."
Text
Bunga
"Hal yang dominan pada sajak Kemala tadi ialah lukisan seakan statik terhadap sesuatu hal, dan ini menghilangkan unsur gerak pada bait 4."
Text
Selamat hari jadi
"Bait-bait dalam sajak-sajak Masuri terasa melompat-lompat, tidak saling berhubungan, sebagai terlihat pada sajak 'Padakah Kita'. Masuri menggunakan imej yang melompat-lompat."
Text
Perbandingan perkembangan di Indonesia dan di Malaysia
Perbezaan perkembangan puisi moden di Malaysia dengan di Indonesia mungkin disebabkan oleh perbezaan latar belakang pekerja-pekerja puisi itu sendiri. Penyair-penyair di Malaysia dapat dikatakan sebagai orang yang kurang mendapat kehidupan kebudayaan Barat dibandingkan dengan teman-temannya di Indonesia seperti yang telah dinyatakan oleh Ismail Hussein dalam satu ceramahnya dalam Klab Kritik Pena pada 10 Oktober 1969."
Text
Puisi tahun 60an dan 70an: Kesimpulan
"Perkembangan pada tahun 60an dan 70an telah menggairahkan daripada sebelumnya. Ini sampai kepada puncaknya dalam sajak-sajak Latiff Mohidin, yang berhasil melakukan percubaan yang tidak lagi bernama percubaan."
Text
Sebuah bas berwarna biru
"Ciptaan Latiff dihasilkan dari kebebasan dunia luarnya, sehingga ia dapat pergi ke mana saja, tapi pada kenyataannya ia terikat oleh hal-hal yang telah lama mengikat dirinya, oleh ke dalaman yang ada pada jiwanya."
Text
Cinta dari sebuah kamar
"Disamping itu, kalau kita perhatikan penulisan kata-kata dalam sajak-sajak Latiff, penulisannya bukan didasarkan kepada kesatuan bentuk tapi berdasarkan kesatuan pengertiannya."
Text
Latiff Mohidin
"Pembicaraan tentang Latiff sekarang lebih didasarkan kepada Kembara Malam (1974), kerana sebahagian dari sajak-sajaknya dalam Sungai Mekong (1973) telah dimasukkan ke dalamnya dengan beberapa perubahan yang penting."
Text
Sketsa anak kecil
"Pada bahagian I dan II diceritakan bagaimana anak kecil memperlakukan bulan dan matahari ssesuai dengan kebebasan tidak mungkin kembali ke dunia anak kecil itu."
Text
Baha Zain
"Baha memperlihatkan dua perkembangan, dan ini memaksa kita untuk membahagi dua perkembangannya. Dalam antologi Perempuan Dan Bayang-Bayang (1974), terlihat kedua perkembangan ini."
Text
Batu-batu
"Satu hal yang perlu dicatat tentang sajak-sajak Muhammad, ialah meskipun baris-barisnya seakan bersambungan begitu saja, namun ia dapat memberikan independensi kepada baris itu dan malahan dapat memberikan semacam ambiguiti."
Text
Muhammad Haji Salleh
"Muhammad membawa kita kepada suasana yang tidak emosional, dan mengarah kepada suatu pemikiran yang rasional, sehingga ia mempunyai kecenderungan untuk hanya mengatakan tentang kehadiran sesuatu, sebagai terlihat pada sajak 'kata-kata'."
Text
Kuntang
"Dan struktur ini mengingatkan kita kepada struktur sajak-sajak Rendra, meskipun struktur ini terjadi sebagai akibat perluasan struktur ABCD tadi."
Text
Kemala
"Berdasarkan dua buku puisi Kemala, Timbang Terima (1970 dan 1973) dan Meditasi (1972), Kemala jelas berbeza dari Dharmawijaya, apalagi dari Jihaty Abadi."
Text
A. Ghafar Ibrahim
"Ghafar dapat dianggap seorang yang paling sedar tentang pengucapan puisinya, dan ini dinyatakannya sendiri dalam pendahuluan kumpulan Tan Sri Bulan. Sajak-sajaknya dibahaginya ke dalam dua golongan, yang didasarkan kepada sifatnya-sifatnya kepada sifat-sifatnya."
Text
Hadzrami A.R
" Sajak-sajak Hadzrami terlihat sebagai suatu lukisan belaka, tanpa suatu kesimpulan pada akhirnya. Kesimpulan diserahkan pada pembacanya."
Text
Dharmawijaya
"Dua hal yang dapat kita kesan ketika membaca sajak-sajak Dharmawijaya. Ia tidak terikat kepada tradisi, kerana ia berusaha supaya sajak-sajaknya tidak bernada pantun."
Text
Kita mau hidup
Puisi pada Jihaty lebih merupakan struktur pemikiran, sehungga yang penting hanyalah pemikiran belaka. Tentang bagaimana fikiran itu dinyatakan tidak penting. Yang penting baginya, terciptanya puisi, tanpa memperhatikan sama sekali nilai puisi itu."
Text
Jihaty Abadi
"Pada dasarnya, sajak-sajak Jihaty tidak mengandungi percubaan, semuanya semata-mata sesuai dengan apa yang akan diucapkan. Kalau terjadi perulangan, maka perulangan itu sesuai dengan perulangan dalam pemikirannya, iaitu memberikan intensifitas, dan bukan untuk kepentingan gaya bahasa."
Text
Shamsuddin Ja'afar
"Meskipun Shamsuddin mempunyai kecenderungan untuk membuat sajak empat baris perbait, tapi ka tidak terikat kepada satu pola pun. Tidak ada persoalan pola rima akhir. Tidak juga ada persoalan panjang pendek baris."
Text
Puisi tahun enam-puluhan dan tujuh-puluhan
"Pada bahagian ini hanya akan dibicarakan puisi dari penyair yang antologinya terbit sesudah tahun 1970, dan puisinya sebahagian ditulis pada (akhir) tahun 60an atau tahun 70an."
Text
Puisi tahun lima-puluhan: Kesimpulan
"Meskipun pada mulanya Masuri dan Usman sama-sama dekat kepada puisi tradisional, tapi pada perkembangan lebih lanjut terlihat perbezaan antara keduanya."
Text
Kassim Ahmad
"Sajak-sajak Kassim memperlihatkan kepada kita bahawa ia lebih mementingkan fikiran yang hendak disampaikannya daripada soal bagaimana penyampaiannya."
Text
Suhaimi Hj. Muhammad
"Dalam sajak-sajak Shuhaimi tidak dapat kita kesan adanya kesamaan pokok pembicaraan - yang ada barangkali hanyalah kesamaan sikap tentang suatu hal. Ia melompat dari satu pembicaraan kepada pembicaraan lain, sehingga dalam satu antologinya prmbacanya dibawa ke mana saja yang disukainya, boleh dikatakan menjelajahi dunia."
Text
A.S. Amin
"A.S. Amin juga patut dibicarakan dalam rangka pembicaraan ini, meskipun hanya ada satu saja antologinya. Pentingnya untuk dibicarakan Amin, disebabkan sajak-sajaknya agak berbeza dengan kebanyakan sajak-sajak lain."
Text
Noor S.J
"Sajak-sajak Noor S.I., salah seorang penyair dari ASAS 50 juga penuh dengan percubaan-percubaan, malahan percubaan-percubaan itu menyebabkan sajak-sajaknya sangat sulit untuk dimengertikan."
Text
A. Samad Said
"Sajak-sajak awal Samad Said, sama juga halnya dengan sajak-sajak awal masuri dan Usman masih punya hubungan yang tidak dapat diputuskan dari puisi tradisionak."
Text
Usman Awang
"Penyair berikutnya dalam perkembangan puisi Melayu di Malaysia ialah Usman Awang yang lebih dikenal dengan nama Tongkat Warrant. Ada dua kumpulan sajak Usman, iaitu Gelombang dan Duri dan Api. Yang pertama mengandungi sajak-sajaknya dari tahun 1946-1960, sedangkan yang kedua dari tahun 1961-1966."
Text
Masuri S.N
"Masuri telah mulai menulis pada zaman pendudukan Jepun, dan sampai sekarang ada 3 antologi dari Masuri, iaitu Awan Putih, Warna Suasana dan Bunga Pahit mengandungi sajak-sajak dari tahun 1944-1951."
Text
Puisi Melayu moden di Malaysia: Puisi tahun lima-puluhan
"Berbeza dari pembicaraan pada edisi pertama, di mana setiap penyair dibicarakan, maka pembicaraan sekarang agak selektif, dan dibatasi kepada penyair-penyair yang dianggap penting dengan pengertian penting yang relatif sekali."
Text
Sebelum Perang Dunia Kedua
"perkembangan puisi Melayu moden di malaya sebenarnya mendapat tempat dalam sejarah perkembangan kesusastraan Melayu baru pada masa sesudah Perang Dunia Kedua, terutama sekali dengan berdirinya Angkatan Sastrawan 50."
Text
Kesimpulan dan ulasan tentang perkembangan puisi moden di Indonesia
"Berikutnya, dalam hubungan keindahan puisi, keindahan terletak pada permainan bunyi, yang pada dasarnya terbatas kepada dua hal, permainan rima akhir baris dan pemakainan unsur pemenggalan."
Text
Sutardji Calzoum Bachri
"Puisi bagi Sutardji adalah permainan bunyi dengan pengertian yang berbeza dari yang pernah ada sebelumnya. Kalau dulu, permainan bunyi adalah sambilan, yang penting adalah kata-kata yang mengandungi erti tertentu dengan bunyi tertentu."
Text
Sapardi Djoko Damono: Catatan masa kecil, 2
"Dari sajak ini kita jumpai suatu sifat lukisan yang mendetail, tapi tidak pernh sma, bahkan kadang-kadang disengaja diubah. Lukisan yang pertama seakan disangkal oleh lukisan yang kedua dan selanjutnya, sehingga dalam fikiran kita timbul berbagai interprestasi."
Text
Sapardi Djoko Damono
"Membaca sajak-sajak Sapardi dalam 'Duka Mu Abadi' (1965) memberikan kesan tentang adanya persamaan yang dekat dengan sajak-sajak Goenawan, kerana panggunaan teknik yang sama."
Text
Goenawan Mohamad
"Membaca sajak-sajak Goenawan, kadang-kadang kita rasakan adanya semacam penulisan puisi seenaknya, tanpa aturan, sebagai dapat terasa."
Text
Taufiq Ismail
"Dengan tidak memerhati sajak-sajak Taufiq yang tertulis dalam tahun 50an, sajak-sajaknya terasa sebagai prosa yang di potong-potong ke dalam baris."
Showing 5051 to 5100 of 19285 results
Page
of 386
Output Formats:
atom
,
csv
,
dcmes-xml
,
json
,
omeka-xml
,
rss2