Sosiologi sastera : persoalan teori dan metode di sekitar sastera Melayu dan Indonesia

Dublin Core

Subject

Malay literature -- History and criticism
Indonesian literature -- History and criticism
Indonesian literature -- History and criticism

Description

Pendahuluan
Pembicaraan ini mengenai dua aspek yang berbeza, aspek teori dan fenomena dalam sastera Melayu dan Indonesia. Yang satu lebih teoretikal, sedangkan yang lain berupa perlaksanaan.
Pembicaraan teori juga menyinggung metoda pelaksanaanya. Keduanya dapat dibezakan, tapi tak mungkin dipisahkan. Suatu teori mengambil bentuk melalui metoda pelaksanaanya. Akibatnya, dalam pembicaraan nanti disebutkan salah satu saja, mana yang lebih dipentingkan. Dengan begitu taklah bearti bahawa unsur lainnya tak penting atau tak ada,
Dalam membicarakan satu teori, disamping memberikan perkenalan, juga diberikan kritik, dari orang lain dan saya sendiri. Juga diberikan perlaksanaanya. Tapi supaya pembicaraan lancar, tak penuh sesak, perlaksanaan diberikan pada lampiran, apalagi contoh perlaksanaan itu cukup panjang. Namun begitu, tak semua teori akan diberikan contoh. Hanya teori yang langsung bekerja dengan teks, ini sesuai dengan penjurusan saya dalam mempelajari sastera. Dan teori ini memang menghendaki contoh perlaksanaan untuk menjelaskannya. Pendekatan kedua dari Swingewood (halaman 7) dan pendekatan Duvignaud tak akan dicontohkan. Keterangan yang diberikan pada bab berikut ini saya rasa sudah cukup menjelaskan.
Sesudah perbicaraan tentang tiap-tiap teori itu, ternyata ada kemungkinan lain, yang tak dapat di cakup oleh teori-teori itu. Kemungkinan lain itu dikemukakan dengan mengemukakan keadaan yang ada dalam sastera Melayu dan Indonesia, bagaimana fenomena perkembangan sastera Melayu dan Indonesia dapat didekati. Ini merupakan pembicaraan tentang aspek kedua yang lebih merupakan suatu perlaksanaan, meskipun pada hakikatnya ia tak mungkin terlepas dari landasan teori.
Data digunakan dalam pembicaraan ini adalah data yang berhubung dengan sastera Melayu dan Indonesia. Dan dengan menyedari sepernuhnya akan kemungkinan beberapa erti yang dipunyainya, saya menggunakan kedua istilah itu, Melayu dan Indonesia, dalam hubungan pengertian berikut :
(a) Penggunaan kedua istilah itu pertama kali dilandasi oleh fikiran yang pernah saya kemukakan dalam tahun 1960, yang kemudian saya ulang lagi dalam tahun 1969, yang melihat aspek politik yang melekat dalam penggunaan ‘bahasa Melayu’ dan ‘bahasa Indonesia’ di Indonesia. Yang kedua, ‘bahasa Indonesia’, sebelum perang dunia kedua, digunakan oleh pejuang kemerdekaan dan diistiharkan kelahirannya pada 28 Oktober 1928. Sebelumnya, ia belum lagi bernama ‘bahasa Indonesia’. Namun begitu, Belanda ketika itu masih tetap menemaninya sebagai ‘bahasa Melayu’ (of. U. Junus, 19601 1969).
(b) Pengertian Melayu tadi memang tak dapat dipisahkan dengan ‘bahasa Melayu’ dalam arti kebahasaan, yang tak membezakan antara ‘bahasa Melayu’ dan ‘bahasa Indonesia’. Pengertian ini juga dapat masuk ke dalam pengertian yang saya gunakan dalam pembicaraan ini.
(c) Meskipun kedua pengertian itu dapat dibezakan tapi ia tak dipisahkan dalam pembicaraan ini. Begitu juga halnya dengan kedua istilah itu. Dengan begitu, tak ada pembicaraan yang khusus dinamai ‘pembicaraan tentang sastera Melayu’ atau ‘ tentang sastera Indonesia’. Penggunaan kedua istilah itu tidak digunakan untuk membatasi pembicaraan, tapi untuk memungkinkan ruang-lingkup pengambilan data yang lebih luas.

Creator

Umar Junus

Source

PL5131 Jun

Date

1982

Contributor

fieda

Rights

Universiti Malaya

Type

Thesis

Citation

Umar Junus, “Sosiologi sastera : persoalan teori dan metode di sekitar sastera Melayu dan Indonesia,” Rimbunan: Pangkalan Data Pengajian Melayu, accessed February 3, 2026, https://rimbunan.nusa.my/rimbun/items/show/20931.